Oleh: Ditjen Bimas Katolik
Jumat, 5 Juni 2026
Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. (Lukas 12::35-37)
Di zaman yang serba cepat dan penuh dengan ketidakpastian ini, kita sering kali terjebak dalam memandang Yesus hanya sebagai “pemberi solusi” atau sekadar tokoh moral yang inspiratif. Kita mengagumi ajaran-Nya tentang kasih, tapi kadang lupa bahwa Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas sejarah hidup kita. Para ahli Taurat pada masa itu membatasi Mesias dalam kotak ekspektasi mereka: seorang keturunan Daud yang akan memulihkan kejayaan politik Israel. Kadang, kita pun melakukan hal yang sama. Kita membatasi kuasa Tuhan hanya pada doa-doa yang dikabulkan sesuai kemauan kita.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memperluas cakrawala iman kita bahwa Yesus adalah “Tuan” yang disapa Daud dalam Roh Kudus. Artinya, Dia harus menjadi pusat dari setiap keputusan, kegelisahan, dan harapan kita hari ini. Yang paling luar biasa dari iman Katolik adalah misteri ini: Yesus yang memerintah bersama Bapa di surga adalah Yesus yang sama yang memiliki hati manusia. Saat kita merasa lelah dengan beban kerja atau masalah keluarga, ingatlah bahwa Dia bukan Tuhan yang jauh di awang-awang. Dia adalah Tuhan yang hidup, yang memahami rasa sakit, kesepian, dan sukacita kita karena Ia telah menjadi manusia. Teks tersebut ditutup dengan kalimat: “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” Di tengah banjir informasi dan kebisingan media sosial yang seringkali memicu kecemasan, kapan terakhir kali kita benar-benar “mendengarkan” suara Tuhan dengan sukacita?
Menyembah Yesus sebagai Tuhan berarti memberi ruang di hati kita untuk didominasi oleh suara-Nya, bukan oleh ketakutan-ketakutan duniawi. Apakah kita masih memandang Yesus hanya sebagai tokoh sejarah yang hebat, ataukah kita sudah menyembah-Nya sebagai Tuhan yang memegang kendali atas hari esoknya kita? Mari kita bawa iman kita keluar dari sekadar rutinitas, menuju hubungan yang hidup dengan Kristus yang meraja, namun tetap memeluk kita dengan kasih manusiawi-Nya yang tak terbatas. Tuhan Yesus sayang kita semua. Amin.

Leave a Reply